Oleh: djarotpurbadi | Desember 1, 2008

Saat Roh Leluhur Diminta Lindungi Raja Jaang

Kompas.com. Kamis, 17 Juli 2008 | 07:14 WIB

KELAHIRAN seorang anak merupakan satu kebahagian bagi setiap keluarga. Sebagai ucapan syukur, kerap diadakan pesta-pesta sebagai ucapan syukur oleh anggota keluarga. Bagi suku dayak khususnya Dayak Bahau, saat bayi yang baru lahir pertama kali wajib dibawa ke Lamin Adat  (rumah adat) sebagai pemberitahuan kepada leluhur, agar mendapatkan perlindungan dari segala mara bahaya.

Pelaksanaan upacara tergantung kemampuan anggaran keluarga. Untuk upacara besar disebut Dangai Anak, sedangkan upacara yang lebih sederhana disebut Napoq Uma’a. Wartawan Tribun Kaltim, Alex Pardede, berkesempatan langsung mengikuti pelaksanaan Upacara Napoq Uma’a sederhana di Kampung Tering Lama Kecamatan Tering, Kabulaten Kutai Barat, Kaltim Sabtu (12/7).

Anak pertama mereka bernama Raja Jaang Pangihutan Pardede, anak berdarah Batak dan Dayak Bahau. Ayah Raja Jaang bernama Alex Pardede dari Suku Batak, dan ibunya berdarah Dayak Bahau bernama Aloysia Hau. Dalam masyarakat Dayak Bahau, garis keturunan ibu yang lebih dominan sehingga peran dan pengaruh adat dayak lebih kental.

“Kebetulan kami ini keturunan rumah besar, mau tidak mau setiap anak yang lahir dari keturunan raja atau bangsawan (Hipui) harus melaksanakan upacara penyerahan ke Lamin Adat,” ujar Aloysia di sela-sela pelaksanaan Napoq Uma’a.

Sebelum dilaksanakan Napoq Uma’a, pihak keluarga terlebih dahulu  mempersiapkan bahan- bahan untuk perlengkapan upacara, seperti piring putih yang diisi beras, gelang manik (lekuuq) dan dua butir telur. Semuanya di tempatkan dalam piring putih.

Pagi itu seluruh keluarga menunggu kedatangan Dayung (pemangku adat), warga yang masih keturunan Hipui Lahai Hau dan memiliki kewenangan melaksanakan Napoq Uma’a.

Tepat sekitar pukul 10.00, sanak keluarga Kueng berangkat menuju Lamin Adat Tering, berjalan kaki  sekitar 100 meter.

Sementara itu, dayung yang kerap dipanggil Nenek Turis, karena sejak muda hingga berumur 80 tahun saat ini, rambutnya putih keperak-perakan, berjalan perlahan-lahan menuju lamin adat. Sepanjang perjalanan menuju lamin adat ia memanjat doa kepada para leluhur penjaga kampung. Isi doa terkait kelahiran seorang anak di Kampung Tering. Ia berdoa sambil sambil melempar bulir-bulir beras ke kanan dan kiri jalan.

Beras itu sebagai simbol permohonan kepada para leluhur penjaga kampung untuk menjaga dan melindungi anak yang baru lahir dari gangguan roh jahat yang bisa mengganggu perkembangan atau kesehatan Raja Jaang.

Setelah melakukan perjalanan selama 10 menit, akhirnya suami-isteri dan anaknya tiba di Lamin Adat dan perlahan-lahan melangkahkan kaki memasuki rumah adat berukuran 20 x 40 meter, Dayung Lahai Hau tiada henti-hentinya memanjatkan doa permohonan perlindungan bagi Raja Jaang.

Di dalam Lamin Adat, Dayung Lahai Hau menghampiri tiang utama lamin adat kemudian meletakkan dua butir telur ke dalam  batang bamboo yang diikat di tiang utama. Setelah itu mulut Dayung kembali berkomat kamit, menginformasikan kepada para leluhur bahwa telah lahir seorang anak yang berasal dari keturunan raja.

“Kebetulan lamin adat ini telah ditempati oleh para leluhur yang berasal dari keturunan raja, dan keturunan yang baru lahir adalah cicit mereka sehingga harus diberitahu,” ujar Aloysia.

Setelah lima kali melempar bulir-bulir beras ke kanan kiri tiang utama Lamin Adat sambil memanjat doa, Dayung Lahai Hau melangkah ke tiang kecil di sebelah kiri tiang utama berukir naga, dan melemparkan bulir-bulir beras.

“Naga ini adalah (simbol) pelindungan seluruh anggota keluarga keturunan raja hingga sekarang ini,” ujar Dayung Lahai Hau.

Setelah hampir satu jam melaksanakan upacara Napoq Uma’a, ritual ini diakhiri dengan pemasangan gelang manik (lekuuq) di tangan kanan Raja Jaang oleh Song Irung, ia keturunan langsung raja yang disebut Amin Ayaq atau Hipui. Song memasang gelang manik sambil memanjatkan doa, tanda  pelaksanaan Upacara Napoq Uma’a berakhir dengan sempurna. (lex)


Beri tanggapan

Your response:

Kategori