Pesta Kematian Toraja Paling Lengkap Digelar
Kompas, Kamis, 9 Oktober 2008 | 02:32 WIB
Seorang perwira militer Inggris, Harry Wilcox, seusai Perang Dunia II (1942-1945), menetap selama enam bulan di Nanggala, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Ia sempat mengunjungi penguasa Nanggala saat itu, yaitu Parengge Siambe Rombelayuk, yang disebutnya sebagai Toraja millionaire atau bangsawan terkaya Toraja. Harry Wilcox menuangkan pengalamannya menemukan ”surga yang hilang” di tengah Sulawesi itu ke dalam buku Six Moons in Sulawesi (1989, Oxford. New York. Singapore: Oxford University Press). Demikian dipaparkan Tanete A Pongmasak, Rabu (8/10), selaku panitia Pesta Mati Toraja yang akan digelar dalam bentuk paling lengkap (aluk sapu randanan) untuk dua pemimpin tradisional Toraja dari Nanggala pada 13-28 Oktober 2008 nanti. Dua pemimpin itu adalah Sindo Lai Balabba (1913-2000, putri Rombelayuk) dan Siambe Ulia Salurapa (1927-2008, putri Balabba). Balabba meninggal 5 Desember 2000, sedangkan Ulia Salurapa pada 8 Maret 2008. ”Pesta Mati sebagai upacara adat pemakaman ini dipersiapkan dengan dana miliaran rupiah, dan informasinya ingin disebarluaskan sebagai peristiwa wisata budaya Toraja,” kata Lily Amelia Salurapa, putri ketiga Ulia Salurapa, dari tujuh bersaudara. (NAW)