Menjaga sampai Akhir Hayat
Kompas, Kamis, 12 Juni 2008 | 16:30 WIB
Mempersunting Agung Putri Dalem KGPAA Mangkoenagoro IX GRAj Agung Putri Suniwati atau Menur merupakan suatu kebanggaan yang luar biasa bagi Sarwana Thamrin dari kelompok vokal Warna. Sebelum mengikuti seluruh rangkaian prosesi pernikahan agung, Selasa (10/6) malam, Sarwana menggelar upacara lepas lajang.
Sarwana berasal dari daerah Bugis, Makassar, sehingga keluarga Sarwana dan Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Surakarta menggelar acara lepas lajang yang dikenal dengan upacara mappacci yang merupakan upacara adat Bugis.
Mappacci bertempat di rumah Ketua KKSS Surakarta Ny Muzdalifah Joko di Jalan Untung Suropati, Solo. Rumah itu pun disulap menjadi tempat upacara adat dengan menghadirkan sebuah pelaminan berdekorasi adat Bugis. Sarwana duduk di tengah pelaminan (yang dalam bahasa Bugis disebut Laming) bersama ibunda tercinta.
Acara bermula dari penjelasan arti upacara Mappacci oleh Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi se-Jateng dr Andi Nur Aziz. Mappacci adalah upacara untuk membersihkan dan menyucikan diri dari hal-hal yang tidak baik.
Saat upacara berlangsung, Sarwana duduk bersila di bawah pelaminan. Di depannya diletakkan sarung tujuh lembar. Sarung ini merupakan simbol penutup/pelindung tubuh, untuk menjaga harga diri. Di atas kain terdapat beberapa lembar daun pacar (pacci) sebagai simbol kebersihan dan kesucian.
Ada pula sebuah meja berisi lilin yang menyala, beras dalam wadah, dua sisir pisang, gula jawa, kelapa, dan ketan.
Proses penyucian dan pembersihan diri, ditandai dengan cara menggosokkan daun pacar ke telapak tangan Sarwana, kemudian menaburkan beras. Beberapa memegang lilin dan meminta Sarwana meniupnya. Suasana penuh keharuan saat ibunda Sarwana melakukan proses Mappacci. Sarwana sungkem kepada ibunya.Upacara kemudian ditutup dengan doa.
Menjaga sampai akhir
“Bagi saya perkawinan merupakan suatu kebanggaan yang luar biasa. Tidak semua orang bisa merasakan apa yang saya rasakan saat ini. Selama ini saya bercita-cita dan mendambakan berjodoh yang benar-benar kualitas. Semoga bisa terwujud sampai hari H nanti,” ujar Sarwana.
Sesepuh adat Bugis, HZB Palaguna, menegaskan, Sarwana orang Sulsel. “Percayalah bagi rakyat Sulsel, menikah hanya satu kali dan satu kali mati. Mempersunting Menur berarti memegang satu prinsip kalau peristri anak orang akan jaga sampai akhir hayat,” ujar Palaguna. (SON)