Kompas, Selasa, 7 Oktober 2008 | 03:00 WIB
Oleh C Wahyu Haryo PS
Sebuah perkawinan memiliki makna yang sangat sakral bagi masyarakat Kabupaten Ogan Komering Ilir atau OKI, Sumatera Selatan. Hal ini terlihat dari rangkaian upacara adat pernikahan masyarakat OKI yang diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyangnya. Salah satu bagian dari upacara adat pernikahan di OKI yang memiliki makna sakral adalah prosesi Midang.
Dalam kurun waktu 15 tahun terakhir, tradisi Midang sudah menjadi agenda wisata budaya tahunan di OKI. Tradisi ini diselenggarakan beberapa hari setelah Lebaran.
Ratusan muda-mudi berbusana pengantin serta pengiringnya melakukan perarakan dengan berjalan kaki, mengelilingi sejumlah ruas jalan Kota Kayu Agung, ibu kota OKI. Perarakan ini dimeriahkan musik tanjidor.
Tradisi ini tidak hanya mendapat sambutan hangat ribuan masyarakat setempat, tetapi juga menarik perhatian wisatawan dari luar daerah. Bahkan hampir tiap tahun media cetak dan televisi nasional selalu memberitakan tradisi ini.
Abdur Rahman Ahmad, Ketua Pembina Adat Kabupaten OKI, mengatakan, midang sendiri berarti berjalan-jalan sambil menjalin silaturahim dengan handai taulan yang dijumpai di sepanjang jalan. Dalam upacara adat perkawinan di OKI, Midang yang biasanya diselenggarakan Sabtu siang, dimaknai sebagai upaya memperkenalkan sepasang muda-mudi yang hendak menikah kepada khalayak.
Upacara adat pernikahan masyarakat OKI sebenarnya diawali dengan prosesi ”Manjau Ngajak”. Tradisi ini dilakukan Jumat sore, sehari sebelum Midang.
Dalam prosesi Manjau Ngajak, mempelai laki-laki beserta keluarganya bertandang ke rumah pengantin perempuan dengan membawa hantaran berupa makanan, pakaian, perhiasan, dan uang. Selanjutnya, mempelai laki-laki dan perempuan mengajak para bujang (pemuda) serta gadis setempat untuk mengiringi mereka dalam prosesi Midang esok harinya.
Juli dan Bong
Saat penyelenggaraan Midang, pihak mempelai laki-laki menjemput mempelai perempuan dengan membawa ”Juli”, yaitu kereta dorong yang dihiasi sedemikian rupa sehingga membentuk perahu. Juli inilah yang digunakan kedua mempelai saat diarak keliling kampung.
Saat rombongan mempelai laki-laki datang, mempelai perempuan menyambutnya dengan membawa ”Bong” atau tempat mandi terbuat dari kayu ringan dan bisa mengapung. Bong inilah yang nantinya digunakan mandi bersama pengantin laki-laki.
Seiring berjalannya waktu, Bong dan Juli ini mulai hilang dari prosesi Midang. Menurut Rahman, sekitar tahun 1960-an sudah sulit sekali mendapatkan kayu ringan untuk bahan baku pembuatan Bong. Adapun Juli tidak lagi digunakan karena pengantin lebih senang berjalan kaki yang dianggap lebih praktis.
”Saat berjalan kaki berkeliling kampung, kedua mempelai selalu mampir ke rumah kerabat yang dilalui untuk bersilaturahim,” katanya.
Yang unik dari prosesi Midang tempo dulu, para bujang dan gadis kampung yang mengiringi kedua mempelai juga berdandan seelok mungkin. Pada saat itu, para orangtua yang berdiri di pinggir jalan mengamati bujang-gadis yang ikut Midang. Mereka mencarikan jodoh anaknya.
Pada Sabtu malam, keluarga mempelai perempuan menyelenggarakan prosesi ”Malam Mulah” atau pertemuan dengan bujang-gadis di kampung itu. Prosesi ini bertujuan untuk berkenalan dengan bujang-gadis setempat dan minta doa.
Puncak dari upacara adat pernikahan masyarakat OKI adalah akad nikah yang diselenggarakan hari Minggu. Saat itu mempelai perempuan dijemput mempelai laki-laki dengan iringan tanjidor, lalu melangsungkan akad nikah di masjid.
Seusai akad nikah, tamu yang hadir di rumah mempelai perempuan dijamu dengan hidangan. Di sela-sela jamuan makan itu, kedua mempelai diberi gelar nama marga dari pihak keluarga laki-laki.
Evolusi Midang
Midang pada awalnya hanya mengambil rute sembilan desa, yakni Desa Kedaton, Kayu Agung, Sidakersa, Jua-jua, Paku, Mangun Jaya, Sukadana, Perigi, dan Kota Raya. Oleh karena itulah, dahulu prosesi ini disebut Midang Morge Siwe. ”Morge Siwe” sendiri dalam bahasa setempat berarti sembilan marga.
Pada era penjajahan Belanda, rute Midang harus melewati pendopo rumah dinas penguasa Belanda saat itu. Dari sisi penguasa Belanda, Midang menjadi hiburan sekaligus menjadi alat untuk mengontrol siapa saja warga setempat yang akan melangsungkan pernikahan. Selain itu, Midang yang melewati rumah petinggi Belanda juga merupakan simbol penghormatan kepada penguasa wilayah.
Meski tidak diketahui secara pasti kapan mulai, menurut Rahman, tradisi Midang sempat tidak lagi menjadi bagian dari upacara adat pernikahan sakral di OKI. ”Keluarga yang mempunyai hajat saat itu malu jika saat arak-arakan bujang-gadis ternyata yang mengiringi kedua mempelai hanya sedikit,” katanya mengungkapkan alasan.
Setelah sekian lama tidak ada lagi prosesi Midang dalam upacara adat pernikahan, maka muncul keinginan dari sejumlah tokoh masyarakat dan pemerintah daerah untuk membangkitkan lagi tradisi itu. Wujudnya, bukan lagi bagian dari upacara adat pernikahan, tetapi sudah berubah menjadi karnaval muda-mudi berbusana pengantin yang dikemas sebagai agenda wisata budaya.
Busana pengantin yang dikenakan pasangan muda-mudi itu pun tidak hanya busana pengantin adat OKI, tetapi juga busana pengantin dari daerah lain, seperti dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Sunda, Madura, serta Bali. Musik pengiringnya pun tidak lagi hanya tanjidor, tetapi juga gamelan Bali serta tarian reog.
Makna tradisi Midang yang digelar setelah Lebaran itu telah bergeser dari tujuan awal untuk memperkenalkan mempelai yang akan melangsungkan pernikahan.
Meri (30), warga asli Kayu Agung yang pernah ikut karnaval Midang sekitar 13 tahun lalu, malah mengungkapkan, ”karnaval” Midang ini juga bisa menjadi ajang mencari jodoh bagi muda-mudi yang ikut ”karnaval”. Hal ini membuat mereka tak segan-segan merogoh kocek hingga ratusan ribu rupiah untuk menyewa pakaian dan berdandan di salon kecantikan untuk bisa tampil lebih ngejreng.
Penyelenggaraan Midang secara rutin tiap tahun itu memang lebih untuk ”mengenang” tradisi Midang yang sebenarnya menjadi bagian dalam pernikahan sakral di OKI. Midang tersebut kini menjadi ”hiburan” di saat liburan Lebaran.
Ironisnya lagi, makna Midang semakin bergeser dalam penyelenggaraan dua tahun terakhir. Tahun lalu, Midang dimanfaatkan untuk pengerahan dan penyampaian dukungan kepada gubernur incumbent (sedang menjabat) yang akan maju dalam pilkada. Serupa dengan tahun lalu, tahun ini Midang juga dimanfaatkan untuk pengerahan dan penyampaian dukungan, tetapi bagi bupati incumbent yang juga akan maju dalam pilkada….
kebudayaan adalah kekayaan yang takkan habis jika kita mampu menjaganya….
Oleh: jua on Januari 3, 2009
at 7:04 am
Salam kenal sebelumnya.
Penjelasan yang menarik tentang pernikahan.
Thanks.
Oleh: ebed_adonai on April 3, 2009
at 3:57 pm